Oleh: Achmad Nur Hidayat, Pakar Kebijakan Publik Narasi Institute
LINTASNEWS.COM – Lembaga Survey Indonesia LSI baru saja merilis hasil survey nya. Survey tersebut dilakukan dengan menggunakan pemilihan sampel melalui metode random digit dialing (RDD).
RDD adalah teknik memilih sampel melalui proses pembangkitan nomor telepon secara acak.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dengan teknik RDD sampel sebanyak 1221 responden dipilih melalui proses pembangkitan nomor telepon secara acak, validasi, dan screening.
Margin of error survei diperkirakan sekitar 2.9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen asumsi simple random sampling.
Dalam pemaparannya Direktur Eksekutif Djayadi Hanan mengatakan bahwa 76,2 persen responden merasa puas dengan kinerja Presiden Joko Widodo atau Jokowi.
Kinerja Jokowi dikatakan juga mengalami peningkatan dalam persepsi positif masyarakat dari 62,6 persen pada September 2022 menjadi sekarang 76,2 persen.
Baca Juga:
Indonesia ASRI di Tengah Dunia yang Berubah, Oleh: Stephanus SB Raharjo (Pengamat Sosial)
Dukung Gerakan Jumat Berkah, Sediakan Kemasan Nasi Hemat dan Layak untuk Berbagi
LSI menyebut meningkatnya kepuasan kinerja Jokowi itu berdasarkan survei tingkat kepuasan responden terhadap situasi ekonomi nasional dan penegakan hukum.
Dari hasil survey tersebut LSI seolah telah melakukan penggiringan opini tentang persepsi masyarakat terhadap keberhasilan pemerintah Jokowi dalam bidang ekonomi dan hukum.
Namun pada kenyataannya ada 2 hal mendasar yang menunjukkan bahwa hasil survey tersebut tidak dapat diyakini validitasnya.
Yang pertama terkait metode pengambilan sampel dengan responden 1221 orang dengan menggunakan sarana telphon.
Baca Juga:
Coda Luncurkan Kampanye Regional untuk Cegah Penipuan Daring bagi Pemain Gim
Dimana responden yang terpilih adalah hanya orang orang yang memiliki nomor telepon dan tidak mewakili suara masyarakat Indonesia.
Karena sampling yang dipakainya tidak mencerminkan suara masyarakat Indonesia.
Sehingga dari segi sampling responden survey LSI ini lemah.
Kemudian selanjutnya terkait hasil survey yang disampaikan naiknya kepuasan publik terhadap performa pemerintah dalam ekonomi dan penegakan hukum ini sangat berbanding terbalik dengan situasi di lapangan.
Kondisi yang ada baik penegakan hukum maupun ekonomi saat ini justru mengalami kemunduran.
Banyaknya PHK di berbagai perusahaan maupun bentrok tenaga kerja di Morowali sejatinya menunjukkan kondisi ekonomi saat ini yang mengalami kemunduran.
Baca Juga:
Ukuran Ringkas, Standar Tinggi: Otis Gen3™ Villa Homelift Terbaru Untuk Kenyamanan Hidup Sehari-hari
DPW PROPAMI Surabaya Raya Dilantik, Fokus Kolaborasi Akademisi dan Industri
Dalam bidang penegakan hukum pun kondisi yang ada di lapangan menunjukkan lemahnya penegakan hukum.
Dari kasus Sambo, tragedi Kanjuruhan dan berbagai kasus lainnya menunjukkan penegakan hukum di rezim ini sedang bermasalah bahkan sedang berada di titik nadir.
Sehingga adalah hal yang sangat aneh dan tidak wajar ketika ada lembaga survey yang mengatakan bahwa meningkatnya respon positif masyarakat terhadap penegakan hukum dan ekonomi pada saat ini.
Ini adalah bentuk Penggiringan Opini yang Menyesatkan yang bertolak belakang dengan kondisi yang ada di lapangan.
Sehingga kita justru perlu mempertanyakan kredibilitas LSI yang mengeluarkan Survey ini.***











